Bagi Pak Cik, Merdeka dan Demokrasi Saja Tak Cukup

UTUSANNEWS – Bagi Direktur Eksekutif 98 Institute Sayed Junaidi Rizaldi, perjuangan aktivis 98 saat menumbangkan rezim Orde Baru (Orba) hingga kini belum usai. Bagi, dia, masih banyak cita-cita reformasi yang harus dituntaskan.

Bahkan bagi Pak Cik sapaan akrab Sayed Junaidi Rizaldi yang dulu bergabung dalam Forum Ketua Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) saat aksi 1998 berlangsung, pasca 20 tahun reformasi banyak tantangan kedepan yang harus dihadapi.

Berikut petikan wawancara Redaksi PenaOne.com dengan Sayed Junaidi Rizaldi Senin (4/6/2018):

Baca Juga :  Tingkatkan Ekonomi, Pemerintah Bangun Listrik sampai Desa-desa

Apa bedanya perjuangan 1945 dan 1998 bagi Anda?

Sebagaimana semangat 45 yang menebarkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme dan penjajahan. Sedangkan perjuangan kita tahun 98 lalu, membawa semangat anti otorianisme, menjunjung tinggi demokrasi untuk tatanan negara dan pemerintahan yang baik.

Apa perjuangan di tahun 2018 ini menurut Anda?

Sedangkan tahun 2018 ini kita kembali lagi membakar semangat negara kesatuan RI yang Ke Indonesiaan, kebhinekaan untuk menangkal ideologi asing.

Apa yang akan Anda perjuangkan saat ini?

Baca Juga :  Sarumpaet dan Gerung Ditolak di Palembang

Dua puluh tahun berlalu, angkatan 98 kembali hadir untuk mengobarkan semangat pejuang 45 demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republi Indonesia (NKRI). Merdeka dan demokrasi saja tidak cukup untuk kemajuan bangsa ini.

Apakah Pancasila jadi cerminan hidup berbangsa saat ini?

Mesti ada penguatan dasar-dasar Pancasila yang mencerminkan karakter bangsa sebagaiamana amanat pendiri bangsa ini untuk menghindari masuknya ideologi asing yang bisa jadi berakhir ke perpecahan bangsa.

Menurut Anda apa tahapan-tahapan nation building?

Baca Juga :  Dorong Pembangunan Museum Likuifaksi Dunia, Yahdi Basma Gelar Pertemuan Dengan JICA

Tahun 1945 dapat wilayah. Lalu perang untuk pengakuan dunia. Pancasila baru lahir.

Tahun 1966, rezim sipil tumbang. Berdiri rezim militer. Pancasila dikembangkan melalui penataran.

Tahun 1998, rezim militer tumbang. Diterapkan sistem demokrasi modern. Pancasila ada tapi tidak dimengerti.

Sedangkan tahun 2018, masa jaya internet. Arus nilai dan gagasan asing deras tanpa batas. Ada kebutuhan penguatan nilai-nilai Ke Indonesiaan. Pancasila harus digadang-gadang lagi.

SUMBER : Penaone.com

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.