Ironis..!!! Dunia Pendidikan Di Indonesia Tak Semulus Yang Dibayangkan, Seperti yang Terjadi di Sekolah Ini

UTUSANNEWS – Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tak semulus yang dibayangkan. Berbagai macam persoalan mewarnai perjalanan kehidupan sekolah, mulai dari minimnya fasilitas, sumber daya manusia, pendapatan, hingga permasalahan biaya.

Seperti halnya di suatu desa terpencil di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Upaya keras para generasi muda untuk menempa ilmu pengetahuan menjadi terkendala karena fasilitas ruang belajar yang tidak memadai.

Salah satunya di Sekolah Dasar Negeri 4 Randurejo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, yang kondisinya memprihatinkan.

SDN ini berlokasi di sekitar hutan yang bisa ditempuh dengan perjalanan kendaraan bermotor sekitar tiga jam dari Kota Purwodadi. Akses infrastruktur jalan menuju sekolah yang tak jauh dengan Kabupaten Sragen, Jateng, ini sebagian besar rusak parah.

Pantauan Kompas.com, saat memasuki gerbang sekolah, pandangan mata dari depan langsung disuguhkan dengan bangunan ruang kelas yang jauh dari kata layak. Lebih mirip dengan gubug reyot. Sejumlah kerusakan bangunan di berbagai sudut terlihat jelas.

Baca Juga :  Terpilih Sebagai Ketum RUMPUT, M Nizam : Mari Kita Jaga Keutuhan dan Persatuan Untuk Bangun Daerah

Dindingnya mayoritas berupa papan kayu keropos, bahkan berlubang di mana-mana. Begitu juga dinding temboknya banyak yang retak. Plafon teras pun nyaris tak ada lantaran telah ambrol dan hanya menyisakan kerangka kayu.

Memasuki ruang kelas, kian menyayat hati. Ventilasi udara ala kadarnya, plafon juga sudah tak tersisa. Permukaan lantai kelas yang dilapisi semen banyak yang amblas dan berlubang. Bahkan, sebagian lantai kelas masih beralaskan tanah. Meja dan kursi juga tampak usang.

Terlihat juga foto mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden RI Boediono masih terpajang di beberapa ruang kelas. Konstruksi penyangga bangunan ruang kelas rapuh sehingga mengancam jiwa murid dan guru.

Baca Juga :  Polisi Muda Bripka Toni Hermawan ST SH MM Sang Pendiri Police Library in The School 

“Kalau hujan bocor di mana-mana. Apalagi saat hujan disertai angin kencang, kami berlari ketakutan karena angin dan air masuk. Kami kebasahan dan terkadang diliburkan,” tutur Andika Pratama (9), siswa kelas 3 SDN III Randurejo, Selasa (6/3/2018).

Andika bersama rekan-rekan sekolah berharap pemerintah sudi memperhatikan nasib mereka. Setidaknya segera ada sentuhan dari pemerintah yang merealisasikan perbaikan bangunan sekolah selazimnya.

Para siswa pun mengaku sedih dengan kondisi bangunan sekolahnya. Praktis saja, aktivitas belajar mengajar setiap hari menjadi kurang optimal.

“Sangat tidak nyaman dan mengganggu konsentrasi belajar. Kami ketakutan jika sewaktu-waktu bangunan sekolah tiba-tiba ambruk terlebih saat hujan,” sambung Putri (10), siswa kelas 4.

Dibangun tahun 1976

Kepala Sekolah SDN 4 Randurejo, Suwarti, menyampaikan, bangunan sekolah itu dibangun tahun 1976. Saat itu diresmikan oleh Bupati pertama Grobogan, Soegiri.

Baca Juga :  Sidang Senat Amik Selatpanjang Ke-9, Ini Pesan Pimpinan DPRD Kepada Mahasiswa

Sejak saat itu, ruang kelas 1, 2, 3, dan 4 belum pernah diremajakan. Hanya ruang kelas 5 dan 6 yang telah direnovasi pada 2012 lalu.

“Paling parah ruang kelas 1 hingga 4. Kami sudah berkali-kali melaporkan kepada pemerintah karena kondisi bangunan sudah tidak layak dan membahayakan. Janjinya tahun ini akan ada perbaikan. Semoga terlaksana,” ungkap Suwarti.

Total jumlah guru yaitu 10 orang, 6 di antaranya guru tidak tetap. Adapun total jumlah siswa hanya mencapai 60 orang.

“Untuk bayari GTT saja sulit, bagaimana mau merenovasi bangunan. Jumlah siswa kami sangat minim karena warga lebih memilih menyekolahkan anaknya di SD di Kabupaten Sragen yang lebih layak. Dari sini sampai Sragen kan hanya beberapa menit,” kata Pujiani, guru kelas 2 SDN Randurejo.

Sumber : KOMPAS.com

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.