Pak Cik, Cerita Air Kencing dan Prinsip Hidup

UTUSANNEWS – PAK CIK, siapa yang tidak kenal dia. Kalangan aktivis mahasiswa 1998 pasti kenal dengan pria bernama lengkap Sayed Junaidi Rizaldi ini.

Pak Cik, lahir di Dumai hari Kamis, 19 Desember 1974. Dia terlahir dari keluarga bangsawan. Namun dia tidak mengagungkan bangsawannya itu.  Dirinya malah hidup sederhana namun juga tidak kekurangan.

Ayah Pak Cik bernama Sayed Abdul Rachman bin Sayed Usman dan ibundanya bernama Syarifah Rodiah binti Tengku Sayed Umar.

Pria Shio Macan ini menikah dengan Rr. Setyowati dan dikarunia tiga orang anak. Anak pertama yakni Sayed Aqbil Ruhullya Muntazhar, anak yang  kedua bernama Syarifah Risya Dara Saqueena dan terakhir Syarifah Sauza Dyah Gayatri.

Belum lama ini, Redaksi PenaOne.com berbincang ringan dengan pria berkumis dan berbadan gempal ini di kasawan Kuningan, Jakarta Selatan.

Baca Juga :  Gelar Silahturahmi Dengan Pengurus Ormas Islam Se-Jakarta Barat, Menjaga Kondusifitas Kamtibmas

Tampak kesederhanaan di raut mukanya. Meskipun penampilannya selalu rapi dan enak dipandang pria ini mempersilahkan kami untuk duduk berhadapan degannya.

Ditemani segelas teh manis Pak Cik bercerita soal masa lalunya. Berbincang ringan saja. Katanya pelan saat itu, karena memang banyak orang lain yang saat itu berada disamping kami.

Pak Cik, masuk kuliah di UPN Veteran Jakarta pada angkatan 1993 di Akademi Tekhnik Veteran Jakarta (ATEVET). Pada tahun yang sama juga masuk ke dalam aktifis jurnalis mahasiswa di Lembaga Penerbitan Majalah (LPM) Aspirasi.

Jiwa petualanganya, membawa Pak Cik menjadi aktifis pecinta alam Wanadri yang terkenal sebagai pencetak mental-mental ulung para anggotanya yang survive dan eksis serta tidak sedikit yang kemudian menjadi tokoh nasional.

Baca Juga :  Dewinta: Jangan Mudah Terprovokasi, Gerakan #2019 Ganti Presiden Jelas Ajakan Berbuat Makar!

Di kampus UPN Veteran Jakarta ini yang mengilhami dirinya sebagai aktifis mahasiswa yang berkarakter kuat untuk merancang dan menyusun pergerakan dari satu noktah menjadi bola salju yang kemudian berperan besar bersama gerbong aktifis pergerakan mahasiswa turut mewarnai gerakan reformasi 1998.

Ada cerita menarik yang diucapkan Pak Cik saat dirinya masih duduk di bangku SMP dikampung halamannya saat itu.

Pak Cik bercerita, selama tiga tahun dirinya pernah menaruh air kencingnya sendiri diatas pintu kamar mandi sekolahnya.

Kenalakan yang sangat luar biasa dan tidak perlu ditiru oleh siapapun.

Setiap hari pula, kata Pak Cik, air kencingnya itu selalu mengenai orang yang akan masuk kekamar mandi karena terkena tumpahannya.

Baca Juga :  Astronot Jepang Ini Jadi Lebih Tinggi Setelah Berada Di Luar Angkasa

Beruntung, selama tiga tahun dia tidak ketahuan oleh pihak sekolah bahwa dirinyalah yang menaruh air kencing itu.

Setiap usai upacara, Kepala Sekolah selalu bilang. Mengakulah, sekolah sudah tahu siapa yang menaruh air kencing itu. Namun, Pak Cik hanya diam dan santai. Karena, dalam benak pikirannya tidak ada bukti yang bisa “menjeratku”.

Sampai tamat sekolah SMP, akhirnya, Pak Cik bisa “selamat” dan lulus dengan nilai yang tidak pas-pasan.

Dalam hidup, Pak Cik selalu berprinsip harus saling membantu dan tolong menolong sesama manusia. Disamping itu, dia juga berprinsip dalam hidup kebenaran harus ditegakkan sampai kapanpun.

SUMBER : Penaone.com

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.