Pembuatan Sampan Dinas Perikanan Karimun di Meranti Diduga Ilegal

UTUSANNEWS, MERANTI – Pengadaan Sampan Ketinting untuk nelayan Kabupaten Karimun oleh Dinas Perikanan Karimun, Provinsi Kepri yang dibuat di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, diduga ilegal.

Betapa tidaknya, pekerjaan pengadaan sampan Ketinting mesin 6,5 hp untuk nelayan Kecamatan Buru itu mendapat sorotan dari berbagai pihak.

Pengadaan Sampan Ketinting sebanyak 128 unit dengan anggran lebih dari 1 Miliar itu dikerjakan sebanyak 73 unit di Kabupaten Kepulauan Meranti, kemudian sebagiannya dikerjakan di Moro, Kabupaten Karimun.

Diketahui sampan sebanyak 73 unit itu, dengan harga awal perunit Rp 2,6 juta, selanjutnya harga itu mengalami perubahan lagi menjadi Rp 3,4 juta.

Sampan-sampan tersebut dibuat di Desa Bungur, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, yang diketuai oleh Husni.

Dari informasi yang berhasil dirangkum wartawan, selain pengerjaan yang sempat bermasalah sehingga ada penolakan saat dilakukan serahterima di Kabupaten Karimun, pembuat sampan juga tidak memiliki SITU dan SIUP serta tidak memiliki Areal Penggunaan Lain (APL) yang dikeluarkan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Riau.

Baca Juga :  Pembagian Takjil Gratis Serta Gerakan Pembagian 1000 Kaos Kaki Gratis Bagi Muslimah

“Iya sampan yang sudah siap dan telah dikirim ke Karimun sempat ditolak karena penerimanya tidak mau menerima. Jadi kita diminta untuk memperbaiki kembali sesuai dengan permintaan,” ujar Husni saat ditemui wartawan disela-sela kesibukan saat berada dilokasi pembuatan sampan, Pada Minggu (19/8/2018) siang.

Husni juga menjelaskan, sampan-sampan yang telah dikirim itu perehapannya langsung di Karimun sedangkan pihaknya diminta memperbaiki sisa yang masih berada di Kabupaten Meranti.

“Ada sekitar 20 unit lagi yang kita perbaiki, tapi upah perehapannya tidak sesuai dan kalau dihitung-hitung tidak ada untung lagi ni,” keluh Husni.

Baca Juga :  Senjata Pamungkas Bernama “Addendum”

Sementara itu, Asriadi selaku rekanan yang memenangkan proyek sampan dengan CV. Nuansa Karya kepada wartawan mengaku jika benar adanya penolakan dari penerima sampan-sampan tersebut sehingga harus dilakukan perehapan kembali.

“Tadinya saya memesan kepada pak Husni selaku pemborong pembuatan sampan sebanyak 128 unit dengan harga awal disepakati berkisar sekitar 2.6 jt, tapi setelah sampan yang dibuat berjumlah 55 unit, pak husni mengirimkan sampan-sampan tersebut ke Karimun baru sekitar 35 unit,” terangnya, saat dihubungi wartawan melalui via seluler.

“Mengingat kapal pengangkut sampan-sampan tersebut tidak bisa memuat semua sampan yang sudah siap. setelah sampan itu sampai ke Karimun dan mau kita serahkan kepada nelayan atau si Penerima, para nelayan tidak mau menerima Sampan-sampan tersebut dikarenakan tidak sesuai dengan keinginan mereka, para nelayan menginginkan sampan tersebut memiliki sauk yang lebih tinggi dan lebar, sementara sampan yang telah siap sauknya kecil, lalu 35 sampan tersebut kita rehab kembali dikarimun,” tambahnya.

Baca Juga :  Saat Menyambangi Mbah Yusni, AKBP Edy Sumardi : Mbah Mengingatkan Saya Kepada Almarhumah Ibu Saya

Ketika awak media menanyakan kepada rekanan, apakah disaat memasukan penawaran, panitia lelang tidak meminta surat dukungan, Asriadi dengan menjelaskan tidak ada panitia lelang mencantumkan surat dukungan resmi.

Menurut keterangan rekanan, sampan yang dipesan 128 unit, akhirnya di kurangi menjadi 73 unit, sedangkan yang telah diantarkan kepadanya baru berjumlah 35 unit, dan sisanya masih 38 unit lagi.

Dari keterangan tersebut, diduga Kontraktor membeli sampan ilegal, hal itu dikarenakan diperbuat sampan tidak memiliki SITU, SIUP,dan APL yang dikeluarkan resmi oleh instansi terkait. (red/DYL)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.